Translate

Jumat, 04 April 2014

KISAH ROMLAH RAIHAN (Tukang Bubur Naik Haji) part 14


“Aku mau cerai, bang.” Romlah menatap lurus. Meski terdengar mantap, Romlah tak mampu menatap wajah Raihan saat mengatakan keinginannya.

“Apa??” Raihan memandang heran. Dia tak percaya dengan kata yang baru saja diucapkan Romlah. Tanpa sepatah katapun Raihan meninggalkan Romlah dengan membanting pintu kamar.

            Oji dan Nafisa yang sedang berbincang di ruang tengah terkejut mendengar suara gadung dari kamar Romlah. Mereka hanya memandang heran pada Raihan yang keluar dengan wajah penuh emosi.

“Ada apa, bang?” Oji memandang panic pada Raihan

“Mpok kamu, Ji.” Raihan berusaha menenangkan diri.

“Mpok kenapa, bang?”

“Mpok kamu minta cerai.” Mendengar perkataan Raihan, Oji tak habis pikir.

“Emang Abang sama Mpok kenapa? Kok sampe sejauh itu.”

“Romlah menuduh saya selingkuh. Padahal jelas-jelas saya di kantor sepanjang hari dan selalu pulang tepat waktu. Saya tidak mengerti apa alasan dia menuduh saya seperti itu.” Raihan terdengar menarik nafas panjang.

“Astagfirullah, yaudah abang tenang dulu ya. Jangan ikut kebawa emosi. Pikirin baik-baik. Biar Oji bantu ngomong sama si Mpok ya.” Oji melangkah menuju kamar Romlah. Nafisa hanya mampu memandang Oji dan Raihan. Dia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan.

***

            Oji membuka kamar Romlah perlahan. Dilihatnya Romlah masih terisak di pinggir tempat tidur.

“Mpookk..” Oji melangkah pelan. Romlah yang menyadari kedatangan Oji memandang kosong. Oji yang tak tega melihat keadaan Romlah mendekat dan memeluk Romlah.

            Dalam pelukan Oji, Romlah semakin terisak. Air matanya semakin deras. Semua Romlah tumpahkan di bahu sang adik.

“Gue takut kehilangan Raihan, Ji. Gue gak tau apa yang harus gue lakuin.”

“Mpok, mending lo pikirin lagi deh semua yang lo bilang ke Bang Raihan. Lo gak boleh gegabah, Mpok. Klo gak lo bakal nyesel seumur hidup lo.”

            Tangis Romlah semakin kuat. Namun tiba-tiba, Romlah melepaskan pelukannya pada Oji. Tangannya beralih pada perutnya sendiri. Wajah Romlah berubah meringis menahan sakit.

“Ji, perut gue.” Oji panic melihat perubahan pada Romlah.

“Mpok, lo kenapa? Bang Raihan… Bang Raihan…” Oji teriak memanggil Raihan.

“Udah, Ji. Gue gak papa kok. Palingan karena dari kemaren lupa makan.” Romlah terus memegangi perutnya

Oji yang tidak peduli dengan perkataan Romlah terus memanggil Raihan. Raihan yang terkejut mendengar panggilan Oji langsung berlari menuju kamar diikuti Nafisa.

“Kenapa, Ji?”

“Mpok, bang.”

“Sayang, kamu kenapa?” Raihan mendekati Romlah.

“Perut aku sakit.” Romlah masih menangis sambil memegangi perutnya.

“Mpok itu kakinya kenapa?” Nafisa yang berdiri tepat dibelakang Raihan memandang ke lantai. Seketika semua orang memandang kaki Romlah. Terlihat darah segar mengalir di kaki Romlah

“Astafirullah, sayang kamu kenapa?” Raihan memeluk Romlah dengan panic.

“Oji, tolong siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang.” Romlah terlihat semakin lemas. Tak terdengar lagi suara tangisnya. Hanya sesekali dia mengerang kecil karena kesakitan.

            Dalam keadaan panic, Oji berusaha mempercepat laju mobil. Romlah yang duduk dibelakang bersama Raihan berkali-kali menggumam kesakitan.

“Bang, perut aku sakit banget.”

“Iya, sayang. Kamu sabarnya, sebentar lagi kita sampai.” Raihan terus mencoba menenangkan Romlah yang berada dalam dekapannya.

“Oji, bisa lebih kenceng lagi!” Ucapan Raihan terdengar sangat panic.

“Iya, bang. Sabar ya, Mpok. Jalanannya macet.”

“Jakarta!” Raihan mengumpat sendiri

***

            Setibanya di rumah sakit, Romlah langsung dibawa ke Ruang Unit Gawat Darurat. Raihan, Oji dan Nafisa yang menunggu di depan ruangan cemas sambil terus berdoa. Raihan tak henti-hentinya bolak-balik di depan pintu sambil sesekali mengintip ke dalam. Hampir setengah jam berlalu tapi tak ada dokter ataupun suster yang keluar untuk memberitahukan keadaan Romlah.

            Tak lama kemudian, suster keluar ruangan untuk memberitahu bahwa dokter ingin bertemu dengan Raihan. Raihan bergegas menemui dokter sedangkan Oji dan Nafisa mengurus Romlah yang pindah ke ruang rawat inap.

“Selamat siang, dok.” Raihan dengan sopan masuk dan duduk tepat di depan sang dokter.

“Baik, pak. Saya ingin membicarakan keadaan Ibu Romlah.”

“Ada apa dengan istri saya, dok?”

            Setelah mendengarkan semua perkataan dokter, Raihan langsung menuju apotik untuk menebus obat yang harus langsung dikonsumsi Romlah. Raihan berjalan sambil terus bernyanyi hingga tak menyadari ada yang memanggil.

“Papaaa….” Irene dan ZeeZee memanggil Raihan dengan serentak namun yang dipanggil tak kunjung menoleh.

“Papa..” ZeeZee memukul bahu Raihan yang kini ada di depannya.

“Yaampun ZeeZee, Irene, ngagetin aja.”

“Lagian papa dipanggilin daritadi gak denger. Mimi gimana pap?” ZeeZee memandang serius Raihan.

“Sekarang udah di ruang inap. Yuk sekalian kita liat!”

“Emang papa darimana?”

“Papa abis nebus obat, Ren.”

            Sesampainya di ruang inap Romlah, Romlah yang sudah sadar sedang berbincang dengan Oji dan Nafisa. Melihat kedatangan Raihan, ZeeZee dan Irene, mendadak Romlah menangis.

“Sini, nak. Mimi mau dipeluk sama Irene dan ZeeZee.” ZeeZee dan Irene yang bingung melangkah memeluk Romlah.

“Mimi kenapa? Kok mimi nangis. Emangnya mimi sakit apa?”

“Iya. Irene liat tadi pagi mimi baik-baik aja. Mimi kenapa?

“Maafin mimi ya, sayang. Mimi harus bilang ini semua sama kalian.”

“Romlah, saya tidak mau kamu membahas masalah kita sekarang.” Raihan memotong pembicaraan Romlah.

“Mimi sama papa…”

“Romlah, apa kamu tidak ingin mendengar perkataan dokter pada saya?”

“Bang, aku itu gakpapa. Paling maag aku kambuh karena dari kemaren belum makan. Ini udah gakpapa kok. Aku mau sekarang juga semua diselesaiin.” Romlah mengalihkan pandangannya dari Raihan menuju ZeeZee dan Irene.

“Papa dan mimi sudah memutuskan untuk berpisah.” Bagai terkena petir di siang bolong, ZeeZee dan Irene mendadak kaku mendengar perkataan Romlah.

“Kenapa mi, pap?” Tanpa terasa air mata Irene mengalir sedangkan ZeeZee mencoba menahan namun ternyata tak mampu. Keduannya menangis.

“Mimi ngijinin kalian untuk memilih mau ikut sama siapa, termasuk kamu ZeeZee. Klo kamu mau tinggal sama papa, mimi akan bilang ke orang tua kamu. Mimi jamin mereka tidak akan keberatan.” Romlah berkata seakan tidak peduli pada keadaannya begitu juga keadaan orang-orang disekitarnya.

“Tapi untuk hak asuh anak kita, saya pastikan akan jatuh ke tangan saya.” Raihan memandang kecewa pada Romlah. Betapa dia menyadari keinginan berpisah dari Romlah sudah kuat. Raihan berpikir bahwa kehamilan Romlah dan terbukannya kasus parfum akan melunakan hati Romlah.

            Romlah bingung dengan perkataan Raihan. Romlah takut kalau Raihan juga akan mengambil hak asuh Romi.

“Enggak, bang. Romi harus tetap tinggal sama aku.”

“Saya tidak sedang membicarakan Romi. Saya juga tidak sedang membicarakan ZeeZee ataupun Irene. Saya sedang membicarakan anak kita.”

“Maksud kamu apa sih?” Romlah semakin tidak paham arah pembicaraan Raihan.

“Kamu itu dari dulu gak pernah berubah. Selalu terburu-buru, selalu menuruti emosi kamu walau lebih sering kamu akhirnya menyesal tapi kamu gak pernah belajar. Kamu tau tadi pagi kamu mengalami apa? Kamu hampir keguguran, Romlah.”

***

“Kandungan istri Anda sangat lemah, jadi sepertinya Bu Romlah harus bedrest sampai usai kehamilannya lebih tua sehingga kandungannya sudah lebih kuat. Mungkin di usia 4 bulan.” Raihan bingung mendengar perkataan dokter.

“Maaf, dok, saya tidak mengerti. Kandungan? Kehamilan?”

“Jadi bapak belum tahu?” Raihan hanya menggeleng menjawab pertanyaan dokter.

“Baiklah. Selamat ya, pak. Istri Anda sekarang sedang mengandung. Usia kehamilannya berjalan 6 minggu.” Raihan masih tidak percaya dengan yang didengarnya. Namun dia juga yakin tak mungkin seorang dokter berbohong akan hal ini.

            Dengan perasaan senang, Raihan mendengarkan semua anjuran dokter yang harus dipatuhi Romlah selama masa kehamilannya. Dia mengingat dan serius mendengar setiap perkataan agar tak salah termasuk menanyakan hubungan Romlah mencium bau parfum wanita didirinya dengan kehamilan Romlah. Ternyata dalam ilmu kedokteran itu semua saling bersangkutan.

***

Raihan memandang Romlah sejenak. Romlah memikirkan setiap kata yang diucapkan Raihan, namun entah kenapa dia tak juga mengerti.

“Jadi….” ZeeZee yang terlebih dahulu menyadari berteriak sekencangnya.

“Kak ZeeZee ngagetin.” Irene yang berdiri disamping ZeeZee menjadi orang yang paling menikmati teriakan ZeeZee.

“Iihh kalian semua lola. Pake Pentium berapa sih?” ZeeZee hanya tersenyum-senyum jail ke Raihan.

“Yaampun, Mpok..” Oji dan Nafisa yang baru menyadari ikut berteriak.

“Trus masalah parfum itu, bang?” Nafisa bertanya polos. Walau tidak tepat waktunya, namun pertanyaan Nafisa membuka jalan untuk semua.

“Kata dokter itu bawaan kehamilan aja, nanti juga hilang sendiri. Sama kayak ibu-ibu hamil yang gak suka sama bau suaminya. Nah ini malah cium bau orang lain ditubuh suaminya.” Raihan melirik Romlah yang mulai menyadari arah pembicaraan mereka.

“Jadi mimi hamil?” Irene yang menyadari paling lama berteriak paling kencang

“Bang..” Romlah langsung menarik tangan Raihan yang daritadi berdiri disebelahnya. Tanpa sepatah katapun mereka berpelukan seakan memahami perasaan masing-masing.

            Oji, Nafisa, ZeeZee dan Irene bergantian memberikan selamat dan doa untuk Raihan, Romlah dan calon keluarga mereka. Semua berakhir bahagia hari ini. Tantangan apalagi yang akan dihadapi Raihan selama Romlah hamil? Stay tune.. *kecupbasah

 

Sabtu, 22 Februari 2014

KISAH ROMLAH RAIHAN (Tukang Bubur Naik Haji) part 13

            Sepulang dari rumah Riyamah, Romlah tak juga dapat beristirahat dengan tenang. Pikirannya terus melayang membayangkan hal terburuk yang akan terjadi. Romlah takut kehilangan Raihan. Dia tak mampu membayangkan hidup tanpa Raihan. Romlah menerka-nerka hal yang mungkin bisa jadi penyebab Raihan menduakan cintanya. Pikirannya kalut.

            Sepanjang hari dilalui Romlah dengan perasaan cemas. Rencana untuk mengerjakan pekerjaan kantor di rumah pun terbengkalai karena rasa takut yang menyelimuti. Romlah merasakan sesuatu yang berbeda dari dirinya. Semua perasaan yang dirasa menjadi berlebihan dari biasa. Romlah menjadi tidak bisa berpikir jernih.

“Kok bang Raihan pulangnya lama banget ya? Dia kemana dulu sih? Jangan-jangan dia jalan dulu lagi sama cewek lain.” Romlah mondar-mandir di ruang tamu sambil sesekali memandang ke luar memastikan kedatangan Raihan.

            Nafisa yang sudah kembali dari rumah orang tuanya memperhatikan Romlah. Melihat Romlah mondar-mandir tidak jelas, Nafisa hanya mampu mengeleng-geleng kepala. Di dekatinya Romlah yang masih sibuk dengan kegiatannya hingga tak menjadari kedatangan Nafisa.

“Mpook..” Suara lembut Nafisa ternyata cukup mengagetkan Romlah yang sedang serius memandang ke luar rumah.

“Ya ampun, Naf. Lo ngagetin aja sih.”

“Maaf, Mpok. Tapi mpok ngapain daritadi mondar-mandir aja? Nungguin siapa sih?” Nafisa mengikuti Romlah memandang ke luar rumah.

“Raihan.” Romlah menjawab pertanyaan Nafisa tanpa melihat.

“Bang Raihan? Bukannya bang Raihan ke kantor ya, mpok?”

“Ya iya emang. Makanya gue nungguin dia pulang.” Romlah terus memandang ke luar.

“Tapikan ini masih jam 2, mpok. Bang Raihan paling cepet kan pulang jam 5.” Nafisa memandang Romlah heran. Tak biasanya Romlah berperilaku seperti ini.

“Kok lama banget sih, Naf?” Nafisa hanya memandang bengong mendengar pertanyaan Romlah.

            Kali ini Nafisa tak mengucap satu katapun saat melihat Romlah kembali sibuk dengan kegiatannya sendiri. Memandang keluar dengan wajah cemas sambil sesekali melihat jam.

***

            Romlah menunggu Raihan di kamar. Rasa lelah menunggu Raihan berubah menjadi rasa marah. Romlah hanya berdiam diri di kamar walau dia tahu Raihan telah pulang. Raihan yang juga lelah langsung menuju kamar dengan harapan dapat langsung beristirahat.

“Abis darimana kamu?” Romlah langsung memberikan pertanyaan ketika Raihan memasuki kamar.

“Dari kantor.” Raihan yang menyadari suasana panas di dalam kamar memilih untuk mengalah. Dia terlalu lelah untuk bertengkar dengan Romlah.

Raihan mendekati Romlah untuk mencium keningnya seperti kebiasaan mereka semenjak menikah. Romlah mencium bau parfum wanita saat Raihan mendekatinya.

“Kamu darimana?” Kali ini Romlah menanyakannya dengan nada tinggi.

“Kamu kenapa? Semenjak kemarin kamu marah-marah terus. Saya lelah, Romlah. Saya tidak ingin bertengkar dengan kamu sekarang. Lebih baik saya membersihkan diri.” Raihan melangkahkan kaki ke kamar mandi.

“Membersihkan bukti klo kamu selingkuh.” Perkataan Romlah membuat Raihan berbalik badan. Raihan menatap tajam Romlah yang kini menatapnya dengan air mata. Rasa kesal ditahan Raihan. Dia menarik nafas beberapa kali agar mampu menenangkan hatinya.

“Saya tidak tahu pikiran apa yang sudah meracuni kamu hingga bisa menuduh saya seperti itu.” Raihan menarik nafas kembali. Ingin rasanya menumpahkan rasa kesal itu pada Romlah. Namun Raihan tak pernah mampu melihat Romlah menangis.

“Saya tidak ingin meneruskan pembicaraan ini.” Raihan melanjutkan langkah menuju kamar mandi.

***

            Raihan tak habis pikir dengan apa yang diucapkan Romlah. Dia yang begitu mencintai Romlah dituduh berselingkuh. Di ruang kerja, Raihan beberapa kali membalik-balik laporan dari kantor di hadapannya. Konsentrasinya buyar memikirkan Romlah. Pandangannya melayang melihat setiap sudut ruangan, tapi jiwanya tidak sedang disini.

            Permasalahan dikantor ditambah masalah dengan Romlah membuat Raihan tak mampu lagi berpikir. Raihan menggerakan semua persendian. Rasa lelahnya telah sampai ambang batas. Betapa saat ini dia membutuhkan sentuhan Romlah.

***

            ZeeZee yang menyadari permasalahan orang tuanya mencoba tidak memperdulikan. Dia tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Irene yang juga menyadarinya memiliki sifat berbeda dengan ZeeZee. Dia justru memikirkan terlalu dalam permasalahan orang tua mereka.

“Kak, mimi sama papa kenapa sih?” Dengan wajah cemas Irene mendatangi ZeeZee yang sedang di kamar.

“Udah lo gak usah pikirin. Mending belajar sana.” ZeeZee tetap focus pada tugas sekolahnya.

“Tapi kak..” Irene tetap mendesak ZeeZee untuk membahas semua.

“Kita masih anak kecil, gak boleh ikut campur masalah orang tua.” ZeeZee mencoba bersikap netral dalam masalah ini. Dia juga merasakan kecemasan yang sama dengan yang dirasakan Irene. Namun kedewasaan membuatnya mampu memandang permasalahan ini dari sisi lain.

“Tapi kok berantemnya gak selesai-selesai ya?”

“Suami istri berantem itu biasa. Anggep aja bumbu-bumbu pernikahan.”

“Kak ZeeZee sok dewasa.”

“Yee dikasih tau malah ngatain.” ZeeZee cemberut iseng pada Irene. Irene hanya tersenyum melihat muka ZeeZee. Pikirannya masih terpaku pada masalah orang tua mereka.

“Udah klo lo gak ada PR, mending lo tidur. Awas besok kesiangan loh.”

            Irene meninggalkan kamar ZeeZee dengan wajah cemberut. Solusi yang diharapkan datang dari ZeeZee ternyata tidak didapatnya. Irene memutar otak agar mendapatkan cara untuk membantu orang tuanya rukun kembali.

“Ah klo masalah kayak gini gue kalah jago sama kak ZeeZee. Cuma dia yang punya otak penuh dengan ide-ide aneh.” Irene menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya Irene memilih tidur karena tak kunjung mendapatkan ide apapun.

***

“Bang, aku mau bicara. Bisakan kamu berangkat agak siang?” Romlah memulai pembicaraan saat Raihan tengah merapikan diri bersiap berangkat ke kantor. Romlah yang masih memakai pakaian tidur memandang tajam Raihan. Tak ada senyum pagi yang biasa diberikan.

“Saya sedang banyak pekerjaan. Bagaimana saat kita makan siang?” Raihan memandang Romlah datar.

“Aku mau sekarang!” Romlah bersikap tegas tanpa ekspresi apapun.

“Aku ada janji meeting pagi ini dengan klien.” Romlah langsung duduk tanpa berbicara. Raihan yang sudah hapal dengan sikap Romlah. Dia tahu bahwa Romlah sedang merajuk. Raihan langsung mengambil telpon genggam dan menghubungi sekretaris pribadinya.

“Hallo, Siska. Saya mau kamu membatalkan semua janji saya hari ini. Tolong di reschedul ulang semuanya.” Telpon gengam ditutup Raihan. Raihan berjalan mendekati Romlah.

“Kamu tidak ke kantor lagi hari ini?” Raihan memastikan keadaan Romlah. Dia tahu bukan tipe Romlah meninggalkan pekerjaannya sampai 2 hari.

“Aku sedang tidak ingin membahas masalah pekerjaan. Aku ingin membahas masalah kita.” Romlah menatap tajam Raihan. Raihan yang menyadari sikap Romlah hanya mampu menarik nafas.

“Sebenarnya masalah bukan ada di kita, tapi di kamu.” Raihan tetap berusaha tidak menaikan volume suaranya. Raihan menarik nafas agar mampu mengontrol emosi yang bisa saja terpancing atas sikap Romlah.

“Aku, abang bilang. Seharusnya aku yang nanya sama abang. Abang ini kenapa? Salah aku apa sama abang sehingga abang tega ngelakuin ini?”

“Apa yang sudah saya lakuin, Romlah? Saya tidak mengerti semua pembicaraan kamu selama ini.” Romlah mulai terisak menghadapi Raihan yang juga tak mau disalahkan begitu saja.

“Bang, aku bisa maafin semua kesalahan abang, apapun itu. Tapi aku gak pernah bisa nerima sebuah pengkhianatan, bang. Aku gak rela diduakan dan aku gak pernah mau diduakan.”

“Siapa yang sudah menduakan kamu?”

 “Bang, aku cape kamu ngeles terus. Aku udah gak peduli lagi apa yang kamu lakuin. Aku gak bisa hidup dengan seorang pengkhianat.”

“Maksud kamu? Romlah, kamu jangan main-main ya!”

“Aku gak main-main, bang.”

“Romlah, saya pernah bilang bahwa saya akan melakukan apapun asal kamu bahagia. Sekarang mau kamu apa? Asal kamu bahagia, saya akan menuruti semuanya.”

            Raihan menatap Romlah dengan tatapan datar. Romlah yang sejak tadi sudah dipenuhi air mata hanya mampu menutup wajahnya sambil terus terisak.

            Apa yang diinginkan Romlah? Akankah Raihan menuruti semua permintaan Romlah? Stay tune.. *kecupbasah

Jumat, 14 Februari 2014

KISAH ROMLAH RAIHAN (Tukang Bubur Naik Haji) part 12



            Sesampainya di rumah, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Romlah. Dengan wajah cemberut Romlah langsung menuju kamar. Yang lainnya hanya memandang heran atas perubahan sifat yang drastis pada diri Romlah.



“Lebih baik Oji dan Nafisa istirahat dulu. ZeeZee dan Irene juga ya.”



“Bang, Oji mau bicara sebentar boleh?” Oji mencegah langkah Raihan yang ingin menyusul Romlah.



“Oh iya Ji silahkan.” Raihan dan Oji menuju ruang keluarga untuk berbicara sedangkan yang lainnya menuju kamar masing-masing



            Setelah sampai di ruang keluarga, Oji hanya menatap Raihan dengan serius. Selang beberapa menit, belum ada satu katapun keluar dari mulut keduanya.



“Bang, Oji mau minta maaf atas semua yang udah Oji lakuin ke abang. Atas semua perlakuan Oji ke abang. Oji bener-bener nyesel, bang. Oji minta maaf ya.” Oji menunduk malu setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya. Raihan menatap haru sambil melangkah mendekati Oji.



“Oji tidak perlu pikirkan itu lagi. Abang sudah melupakan semuanya. Yang penting sekarang kita sudah kumpul bersama lagi. Klo ada apa-apa Oji bisa kasih tahu abang.” Raihan dan Oji pun berpelukan menandakan berakhirnya perang dingin diantara mereka.



***



            Setelah menyelesaikan permasalahannya dengan Oji, Raihan dihadapkan pada satu permasalahan lagi yaitu perubahan Romlah. Pikiran Raihan berputar mencari penyebab perubahan tersebut. Tak ada satu penyebabpun yang dapat ditemukan Raihan.



“Sayang, kamu kenapa?” Raihan mendekati Romlah yang duduk di tepi tempat tidur. Romlah yang masih kesal membuang muka.



“Sayang..” Raihan memegang kepala Romlah namun langsung ditepis oleh Romlah.



“Mending sekarang kamu mandi. Aku gak suka bau wanita ditubuh kamu.” Romlah berbicara ketus tanpa memandang Raihan. Raihan hanya mampu memandang heran.



“Bau wanita? Sayang, saya gunakan parfum yang biasa. Dan ini gak ada bau wanita.” Raihan mencoba memastikan bau ditubuhnya. Beberapa kali diciumnya tubuh sendiri.



“Udah gak usah pake alasan. Mending sekarang kamu mandi.” Raihan memilih untuk tidak berdebat dengan Romlah. Dengan perasaan heran, Raihan membersihkan diri.



“Kok bang Raihan setega itu sih sama gue. Ngapain coba dia?” Romlah berbicara kepada dirinya sendiri.



***



            Ditengah makan malam, Romlah tetap tak berbicara sedikitpun. Matanya focus pada piring yang hanya diaduk-aduk tanpa dimakan sedikitpun.



“Mpok, lo kenapa sih?” Oji yang daritadi memperhatikan Romlah menjadi penasaran.



“Gue gak kenapa-kenapa.” Romlah menjawab tanpa memperhatikan Oji.



“Sayang, dimakan ya makanannya, jangan diliatin aja.” Raihan mencoba menenangkan suasana.



            Romlah tak menghiraukan perkataan Raihan. Dia tetap tak menyentuh makanannya sedikitpun. Rasa kesal pada Raihan menghilangkan nafsu makannya malam ini. Kecurigaan atas sikap Raihan membuatnya tak mampu menahan amarahnya.



“Aku ke kamar duluan.” Romlah bangkit dari tempat duduknya sebelum akhirnya tangannya digenggam Raihan.



“Sayang, tapi kamu belum makan. Nanti kamu sakit.”



“Aku gak laper.” Dilepas Romlah tangan Raihan dengan kasar. Yang lainnya hanya memandang heran atas kejadian yang baru disaksikan mereka.



“Papa, mimi kenapa?” Irene bertanya sambil terus memperhatikan Romlah yang melangkah tegas ke kamar.



“Papa juga tidak tahu. Semenjak pulang tadi siang, mimi galak banget.”



“Mimi lagi M kali.” ZeeZee menimpali sambil tersenyum.



“M kak?” Irene dengan polos memandang ZeeZee.



“Iya, M. Mengamuk.” Irene cemberut mendengar jawaban ZeeZee. Yang lain tertawa menyaksikan kejahilan ZeeZee pada Irene. Sedangkan Raihan terus memandang pintu kamar yang kini sudah tertutup rapat.



            Mereka melanjutkan makan malam dengan mengobrol riang. Candaan di ruang makan tidak masuk ke dalam memori Raihan. Pikirannya tetap terfokus pada perubahan sikap Romlah yang membuatnya kian bingung. Raihan tidak mengerti dimana letak kesalahan yang dilakukannya sehingga Romlah bersikap ketus.



            Setelah makan malam, Raihan terus mengingat-ingat apa yang terjadi sepanjang hari ini. Dia merenungkan setiap kejadian yang mungkin terlewatkan. Raihan tak mampu mengingat apapun kecuali kejadian pembebasan Oji karena memang hanya itu yang terjadi hari ini. Sepanjang hari ini dia dan Romlah focus pada masalah pembebasan Oji.



***



            Raihan memandang Romlah yang sedang tidur. Tak ada sedikitpun perubahan pada diri Romlah. Romlah masih sama seperti dulu. Seperti saat mereka pertama bertemu. Walau dengan cara yang tidak menyenangkan, Raihan bersyukur Allah mempertemukannya dengan Romlah dan mengikat tali jodoh mereka. Cinta pada pandangan pertama membuatnya harus menggunakan berbagai cara untuk menaklukan hati Romlah.



            Memandang wajah Romlah membuat Raihan bernostalgia akan setiap kejadian dalam perjalanan cinta mereka. Perjalanan yang tidak mulus memberikan pelajaran yang banyak bagi Raihan, terutama tentang mempertahankan Romlah. Dia tidak ingin kehilangan Romlah.



            Raihan memeluk Romlah dengan perlahan. Dia tak ingin gerakannya menganggu tidur Romlah. Tanpa Raihan sadari, Romlah belum tertidur. Romlah menikmati pelukan Raihan. Tapi rasa cemburu yang sudah berkecamuk dalam dirinya tak mampu dia kendalikan. Tanpa terasa air mata Romlah jatuh. Sesungguhnya rasa takut kehilangan Raihan lebih besar dari segalanya. Akhirnya mereka berdua tertidur dengan perasaan masing-masing namun melalui cinta yang sama.



***



            Pagi ini Raihan dan Romlah terlambat bangun. Raihan yang terbangun terlebih dahulu tak bergerak sedikitpun saat menyadari Romlah tertidur dalam dekapannya. Dipandanginya wajah Romlah terus menerus. Dia tidak pernah bosan melakukan itu. Namun kali ini ada rasa takut yang menghinggapinya. Perasaannya menunjukan bahwa masalah antara dirinya dan Romlah kali ini bukanlah masalah kecil.



            Raihan yang melihat Romlah terbangun berpura-pura tidur kembali. Romlah yang tidak mengetahui Raihan telah bangun menikmati setiap detak jantung Raihan. Romlah memperkuat pelukannya seolah-olah takut kehilangan. Dia menyadari bila masalah ini benar maka besar kemungkinan dia akan kehilangan Raihan.



            Romlah melepaskan pelukannya. Dia hendak melangkah ke kamar mandi sebelum suara Raihan mengagetkannya.



“Kok pelukannya dilepas?” Raihan yang masih di dalam selimut tersenyum nakal. Romlah hanya menatap Raihan datar. Segala perasaan yang berkecamuk dalam hatinya dicoba untuk diredam. Dia tidak mau mereka bertengkar pagi-pagi. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Romlah melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Raihan semakin heran dengan sikap Romlah.



            Pagi ini mereka sarapan berdua. Oji dan Nafisa sudah terlebih dahulu pergi ke rumah orang tua Nafisa sedangkan ZeeZee dan Irene telah pergi ke sekolah. Meski dengan wajah kesal, Romlah tetap menyiapkan segala sesuatu keperluan Raihan. Namun berbeda dari hari biasanya, hari ini Romlah tidak ingin pergi ke kantor. Rasa malas tiba-tiba menghinggapi membuatnya ingin menghabiskan waktu di rumah.



            Setelah Raihan pergi ke kantor, Romlah memutuskan mengunjungi Riyamah. Dia ingin mengeluarkan semua rasa yang berkecamuk dihatinya. Romlah berharap mendapatkan jalan keluar akan masalahnya. Romlah berganti pakaian dan langsung menuju rumah Riyamah.



***



“Assalamuallaikum..” Romlah memberikan salam sambil mengetuk pintu rumah Riyamah.



“Waalaikumsalam. Ya ampun Romlah. Masuk, Rom.” Riyamah menyambut Romlah dengan antusias. Kedua sahabat ini telah lama tidak bertemu seiring kesibukan mereka masing-masing.



“Lo kok tumben gak ngantor, Rom” Riyamah mempersilahkan Romlah duduk sambil terus memegang tangan sahabatnya itu.



“Gak tau nih. Hari ini gue males banget mau kemana-mana. Gue kesini mau cerita ama lo.”



“Yaudah. Lo mau minum apa?”



“Udah gak usah. Itu mah gampang.”



“Jadi lo mau cerita apa?” Riyamah memandang Romlah serius. Romlah menunduk dengan air mata yang berlinang.



“Raihan, Ri.”



“Raihan kenapa? Kok lo nangis gini.”



“Raihan selingkuh.”



“Raihan selingkuh? Kayaknya gak mungkin banget deh, Rom. Kita semua tau betapa besar dia mencintai lo.”



“Awalnya gue juga beranggapan kayak gitu. Tapi gue cium bau parfum wanita di kemeja kerja Raihan. Gue apal banget bau parfum Raihan, jadi gue gak mungkin salah cium. Gue takut kehilangan Raihan, Ri.” Tangis Romlah semakin pecah dalam pelukan Riyamah. Riyamah tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya berkata tidak mungkin Raihan melakukan itu. Tapi melihat sahabatnya menangis seperti ini membuatnya berpikir untuk mencurigai Raihan.



            Apa benar Raihan selingkuh? Bagaimana dengan nasib rumah tangga Romlah dan Raihan? Stay tune.. *kecupbasah