Translate

Minggu, 02 Februari 2014

KISAH ROMLAH RAIHAN (Tukang Bubur Naik Haji) part 10

            Malam ini Raihan tidak bisa tidur. Keributan dengan Oji mengganggu pikirannya. Romlah yang hampir terlelap disamping Raihan menyadari kegelisahan yang dirasakan suaminya.

“Bang, istirahat yuk! Masalah yang tadi gak usah dipikirin lagi ya.” Romlah mendekatkan diri pada Raihan. Raihan menempatkan posisi berhadapan dengan Romlah. Dia memandang wajah istrinya lekat-lekat.

“Sayang, saya takut sekali kehilangan kamu.” Raihan menarik tubuh Romlah dalam pelukannya. Dipeluknya Romlah erat-erat sebagai tanda rasa takut.

“Kamu gak akan kehilangan aku, Bang.” Romlah mencoba menenangkan Raihan. Diusapnya punggung Raihan beberapa kali demi menciptakan kehangatan.

“Romlah, satu hal yang harus kamu ingat bahwa saya selalu mencintai kamu dan akan tetap mencintai kamu.” Dikecupnya kening Romlah. Tanpa disadari air mata Romlah mengalir, dia dapat merasakan betapa tulus cinta yang diberikan Raihan.

            Kini Raihan dan Romlah berbaur menjadi satu. Merasakan kehangatan tubuh satu sama lain. Keringat mereka menjadi satu. Dibawah langit berbintang malam itu, mereka membawa semua kekecewaan dan amarah diselimuti dengan cinta ke alam mimpi. Melaksanakan sunah Rasul sebagai sepasang suami istri.

***

“Sayang, bangun yuk! Nanti kita telat ke kantor loh.” Raihan membangunkan Romlah dengan mengecup keningnya. Mendapatkan perlakuan seperti itu ternyata bukan membuat Romlah terbangun, dia hanya menggeliat kecil sambil tersenyum manis namun masih dengan mata tertutup.

“Sayang, bangun dong. Klo gak bangun saya cium loh.” Raihan tersenyum nakal pada Romlah. Romlah hanya memberikan reaksi kecil dengan membuka mata sambil tetap tersenyum.

“Abang kok udah rapi? Emang sekarang jam berapa?” Romlah terkejut saat melihat Raihan yang sudah berpakaian kantor.

“Kamu capek banget ya tadi malam? Maaf ya.” Raihan semakin jahil pada Romlah. Yang dijahili hanya tersenyum manja.

“Yaudah aku mandi dulu. Abang disini aja ya jangan kemana-mana.” Romlah beranjak dari tempat tidur sambil mencium pipi Raihan. Mereka berpandangan sambil tersenyum.

            Ketika Romlah sedang merias diri, Raihan terkagum memandang Romlah tanpa henti. Tatapan matanya tak berkedip sedikitpun. Romlah yang menyadari diperhatikan membalikan badan.

“Kamu jangang liatin aku kayak gitu dong. Malu tau.” Romlah tersenyum manja. Raihan mendekat kepada Romlah.

“Sayang, pasangin dasinya dong.” Raihan bersikap manja pada Romlah pagi ini. Entah mengapa dia ingin sekali menghabiskan banyak waktu dengan Romlah.

“Sini aku pasangin.” Romlah mendekatkan diri pada Raihan.

            Ketika tangannya melingkar dibahu Raihan, tangan Raihan pun melingkar dipinggang Romlah. Kedua mata mereka kini berhadapan. Berjarak tak sampai 5 cm, deru nafas keduanya terdengar nyata di telinga masing-masing.

“Bang, akukan mau pasangin dasi. Klo sedeket ini gak bisa dong.” Romlah malah menjatukan kepalanya di bahu Raihan. Dia menikmati wangi tubuh Raihan setiap hari.

“Ya gak akan bisa dong klo kamu meluk saya juga seperti ini.” Raihan dan Romlah tetawa akan tingkah masing-masing.

“Papa.. Mimi.. Kok lama banget sih keluarnya. Aku sama Irene bisa telat ke sekolah nih.” Teriakan ZeeZee membuat mereka tersadar dari dunianya

***

            Romlah dan Raihan keluar kamar sambil bergandengan. Di meja makan sudah menunggu Nafisa, ZeeZee dan Irene.

“Oji kemana, Naf?” Raihan yang tidak melihat Oji diantara mereka menanyakannya pada Nafisa.

“Bang Oji tadi udah berangkat duluan, bang.” Nafisa menjawab sambil menunduk malu. Nafisa masih terpikir kejadian tadi malam.

“Irene, kamu gak kenapa-kenapa sayang?” Romlah mendekati tempat duduk Irene. Irene yang sedari tadi terlihat murung hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaan Romlah.

“Sayang, kamu gak usah dengerin omongan orang tentang hal itu, karena sampai kapanpun kamu adalah anak mimi dan papa. Gak akan ada yang bisa merubah itu. Mimi bangga punya anak kamu.” Romlah mencium Irene untuk mempertegas ucapannya.

            Raihan dan ZeeZee ikut menganggukan kepala dan tersenyum. Mendengar ucapan Romlah dan melihat Raihan, ZeeZee dan Nafisa membuat Irene tersenyum kembali. Wajahnya kembali ceria.

“Sayang, aku males banget bawa mobil. Kamu mau ya anter jemput aku hari ini?” Romlah menunjukan kemanjaannya kembali. Raihan mengangguk kecil sambil tersenyum.

***

            Raihan yang pulang terlebih dahulu menjemput Romlah ke kantornya. Karena jarak antara kantor mereka cukup jauh, Raihan terlambat menjemput. Di perjalanan, Raihan sudah kuatir bila Romlah akan merajuk karena keterlambatannya. Ternyata ketika sampai di kantor, yang bersangkutan masih asik berkutat dengan laptop.

“Bang, kerjaan aku tinggal sedikit lagi nih. Tanggung. Kamu mau ya nunggu sebentar.” Ucap Romlah sambil menyambut Raihan datang.

“Saya pikir kamu akan ngambek karena saya terlambat datang. Ternyata.. “ Raihan tersenyum sambil membuka jas kerjanya. Dia mengambil posisi santai di kursi dekat meja kerja Romlah.

            Romlah kembali serius dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Raihan yang serius memandangi Romlah. Banyak hal yang disuka Raihan dari Romlah, salah satunya ketika Romlah sedang serius.

“Sayang, kamu serius sekali.” Raihan berbicara pelan tepat ditelinga Romlah.

“Ya ampun kamu ngagetin aja deh, bang.” Romlah yang terkejut memandang kesal pada Raihan.

“Klo lagi kesal kamu tambah cantik deh.”

“Bang, klo kamu gangguin aku terus, kita bisa tidur di kantor.” Romlah kembali berkutat dengan pekerjaanya.

“Saya rela tidur dimana saja asal dengan kamu.” Raihan mencium rambut Romlah. Romlah hanya tersenyum sambil terus bekerja.

“Sini saya bantuin.” Raihan mengambil alih laptop Romlah dengan Romlah tetap berada diantara kedua tangannya. Romlah membiarkan Raihan menyelesaikan pekerjaannya. Ditengah Raihan yang serius, Romlah asik  bermanja dilengan Raihan dengan sesekali mencium lengan suami tercinta.

            Tanpa disadari Romlah tertidur tepat ditangan Raihan. Raihan yang sebenarnya telah lelah menopang tubuh Romlah hanya tersenyum memandang bidadarinya, bahkan ketika pekerjaanya telah selesai, tak sejengkalpun Raihan bergeser dari tempatnya. Dia tak ingin mengganggu Romlah yang sedang bermimpi indah.

            Sesekali Romlah tersenyum dalam mimpinya, membuat Raihan ikut tersenyum sambil terus membelai rambut Romlah. Keasikan keduanya terganggu oleh suara dering telpon genggam Romlah.

“Sayang, maaf aku ketiduran.” Romlah merapikan penampilannya.

“Gak kenapa-kenapa kok. Itu ada yang telpon.” Raihan menunjuk telpon genggam Romlah yang tak kunjung berhenti berdering.

“Hallo. Assallamualaikum.”

“….”

“Apa? Kok bisa, Zee?”

“….”

“Iya. Mimi sama papa segera nyusul ya.”

            Raut muka Romlah terlihat panic sejak pertama mengangkat telpon. Dia bergegas membereskan semua keperluannya untuk segera pulang.

“Kamu kenapa, sayang? Kok panic gitu.” Raihan yang tak mengerti apapun mencoba tetap tenang agar tidak menambah panic Romlah.

“Oji, bang, Oji.” Kepanikan itu berubah air mata. Romlah menangis dipelukan Raihan.

“Kamu tenang. Ceritakan pelan-pelan. Oji kenapa?” Raihan mengusap rambut Romlah dalam pelukannya.

“Oji dibawa ke kantor polisi. Dia dituduh menipu rekan bisnisnya?” Tangis Romlah kian pecah mengingat masalah yang kini dihadapi adik tercinta.

“Kamu gak usah panic. Lebih baik kita segera menyusul Oji ke kantor polisi.” Dengan bergegas Raihan dan Romlah menuju mobil.

“Bang, aku takut banget Oji kenapa-kenapa.”

“Kamu tenang ya. Saya janji akan melakukan yang terbaik.” Raihan menggenggam tangan Romlah sambil terus menyetir. Jalanan Jakarta pada malam hari memang sedikit lenggang.

“Ya Allah Oji, kenapa sih lo mesti ngelakuin ini?” Romlah berbicara seolah untuk dirinya sendiri. Raihan terus mengusap tangan Romlah dalam genggamannya.

“Sayang, kamu gak perlu kuatir. Oji pasti baik-baik saja. Kita tau Oji seperti apa. Dia orang baik, gak mungkin dia melakukan semua yang dituduhkan. Kamu percaya ya.” Romlah sedikit tenang mendengar ucapan Raihan. Walau dalam hatinya, ia tetap kalut memikirkan nasib Oji.

            Bagaimmana nasib Oji selanjutnya? Akankah Raihan mampu membebaskan Oji? Stay tune.. *kecupbasah

Sabtu, 01 Februari 2014

KISAH ROMLAH RAIHAN (Tukang Bubur Naik Haji) part 9


“Bang, Nafisa rasa sikap abang udah keterlaluan sama Bang Raihan. Gak seharusnya abang selalu memojokan Bang Raihan dengan mengungkit-ungkit masa lalu.” Nafisa pada Oji ketika mereka sedang berdua di dalam kamar.

“Semua yang di dapet Bang Raihan itu udah pantes. Seenaknya aja dia dateng dan pergi di kehidupannya mpok. Eh, sekarang dia bisa milikin mpok lagi.” Oji melampiaskan kekecewaannya.

“Tapi kan kita liat klo sekarang mpok bahagia. Ngapain abang usik lagi?” Nafisa mencoba memberikan pengertian kepada suami tercinta. Namun ternyata Oji terlalu keras kepala untuk menerima itu semua.

“Abang akan berhenti sampai semua yang perih yang dirasakan mpok juga dirasakan Bang Raihan.”

“Sampai mpok dan Bang Raihan bercerai?” Pertanyaan Nafisa mengagetkan Oji. Dia tersadar akan satu hal. Kehancuran yang akan dirasakan oleh Raihan akibat ulahnya juga akan dirasakan oleh Romlah.

***

“Anak-anak papa lagi main apa?” Raihan dan Romlah menghampiri ZeeZee, Irene dan Romi yang tengah asik bermain di ruang keluarga. Romi yang sedang bermain mobil-mobilan berlari kecil menghampiri Raihan.

“Romi mau main sama papa ya? Sini kita main mobil-mobilan bareng.” Romlah bahagia melihat keharmonisan ditengah keluarganya. Sambil tersenyum tipis, diperhatikan ketiga anak dan suami tercinta.

            Tiba-tiba bayangan masa lalunya bersama Raihan muncul. Mulai dari perkenalan yang tidak sengaja akibat ulah Kardun, pendekatan yang intens yang dilakukan oleh Raihan, masa-masa kebahagiaan ketika mereka bersama, terbongkarnya kisah Romlah bersama Kardun namun Raihan tetap menerimanya, rencana pernikahan, sampai pembatalan pernikahan karena orang tua Raihan yang tidak menyetujuinya.

            Kini semua kenangan pahit dan manis itu membuahkan kebahagiaan yang abadi. Yang akan Romlah jaga walau maut taruhannya. Kehadiran Raihan, ZeeZee, Irene dan Romi adalah anugrah yang diberikan Allah yang harus dijaga.

“Lagi pada asik nih.” Oji dan Nafisa ikut bergabung di ruang keluarga. Mereka duduk disamping Romlah.

“Oh iya, mpok. Tadi siang Oji gak liat mpok makan siang. Mpok lupa makan siang ya?” Oji menatap Romlah dan Raihan bergantian.

“Oh itu. Gue makan siang kok. Abang bawa makan siang ke kantor, jadi gue makan di ruangan berdua.”

“Ciyee.. Ciyeee.. So Sweet dong.” ZeeZee yang terkenal jahil mencoba usil kepada kedua orang tuanya. Romlah dan Raihan hanya tersipu malu.

“Papa dan mimi gak ngapa-ngapain kan?” Irene menimpali keusilan ZeeZee. Dikedipkannya satu mata kepada Romlah.

“Ngapain gimana?” Romlah menjawab sambil tersenyum kecil. Jelas dia malu atas apa yang ada dalam pikirannya sendiri.

“Ya gitu deh!” ZeeZee dan Irene menjawab bersamaan sambil tertawa lepas. Diiringi tawa kecil Romlah.

“Keluarga yang aneh.” Raihan menyeletuk dan tersenyum melihat tingkah ketiga bidadarinya. Dia bahagia atas apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Iya, aneh. Keluarga aneh dimana sok gak mau menerima wanita karena status janda tapi bisa menerima anak dengan status anak haram.” Perkataan Oji membuat semua orang menghetikan aktivitasnya. Semua mata kini tertuju pada Oji seolah meminta penjelasan atas apa yang dikatakannya.

            Irene yang merasa perkataan Oji ditujukan untuknya mencoba menahan amarah. Dadanya terlihat naik turun dengan nafas bergemuruh. Tanpa terasa air matanya tak mampu lagi ditahan. Mengalir bagai anak sungai dari mata sipitnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Raihan. Lebih dari itu, dia sudah tak mampu menahan semua.

            Irene berlari ke kamar diikuti oleh ZeeZee. ZeeZee yang terus menatap Oji sambil melangkah memperlihatkan amarahnya. Dia jelas kecewa atas apa yang dikatakan Oji. Romlah tak tahu lagi apa yang harus diperbuat.

“Oji, saya gak pernah marah kamu bicara apapun tentang saya. Saya gak pernah dendam kamu mau menyindir apapun tentang saya. Tapi tidak dengan anak saya. Saya tidak akan menerima bila ada orang yang berani menyentuh apalagi menyakitinya. Siapapun orangnya.” Raihan membuka suara ketika hanya tinggal mereka berempat di ruang keluarga.

“Sekarang Oji maunya apa? Saya tidak mau Oji terus-terusan menyakiti anak-anak saya. Klo Oji mau Romlah, silahkan. Tapi jangan pernah sakiti ZeeZee, Irene dan Romi.” Raihan mengakhiri perkataanya dengan melangkah menuju kamar. Dia tidak mau pertengkaran ini terus melebar.

“Ji, mau lo apa sih? Lo mau ngerusak rumah tangga gue? Lo mau gue bercerai dari Raihan?” Romlah meluapkan amarannya pada Oji.

“Ji, kenapa gak lo biarin gue bahagia dengan pilihan gue? Lo yang pernah bilang klo lo bakal ngelakuin apapun asal gue bahagia. Sekarang lo gak harus ngelakuin banyak hal, cukup hargain gue, Raihan dan anak-anak gue. Jangan sentuh apalagi nyakitin mereka. Cuma itu, Ji.” Romlah tak mampu lagi menahan air matanya. Dia menangis dihadapan Oji dan Nafisa.

            Nafisa hanya mampu terteguh melihat yang terjadi. Dia tak tahu harus membela siapa. Namun kali ini jelas, Oji bersalah. Apapun yang terjadi tak mungkin dia membela yang bersalah. Nafisa hanya tertunduk ketika ditatap oleh Romlah yang seakan meminta bantuan. Romlah meninggalkan Nafisa dan Oji yang masih terdiam dengan pikirannya masing-masing.

***

            Ketika memasuki kamar, Romlah mendapati Raihan sedang duduk dipinggir tempat tidur sambil menahan amarahnya. Matanya memerah disertai nafas yang tidak beraturan. Raihan marah besar.

            Dengan langkah pelan, Romlah mendekati Raihan. Digenggamnya tangan Raihan yang sedang mengepal. Kehangatan dan kelembutan tangan Romlah tenyata mampu meredam amarah yang kini dirasakan Raihan. Raihan menoleh dengan tatapan memelas. Memohon bantuan dan maaf atas apa yang terjadi.

“Sayang, maafin semua perkataan Oji ya. Aku tau dia udah keterlaluan banget, tapi kamu jangan masukin kedalam hati ya.” Romlah berbicara perlahan.

“Apa semua yang saya lakuin, semua pengorbanan saya masih kurang untuk menebus semua kesalahan saya sama kalian? Klo masih kurang bilang apa lagi yang harus saya lakukan. Jangan Irene yang kalian korbankan.” Raihan membuang muka. Romlah memegang wajah Raihan untuk dihadapkan dengan wajahnya.

“Gak ada, sayang. Gak ada yang perlu kamu lakuin kecuali menjaga apa yang sudah kita punya saat ini.” Romlah mencoba tersenyum memastikan semua baik-baik saja.

“Romlah, kamu adalah segalanya bagi saya. Saya akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu dan anak-anak. Maaf atas semua yang telah terjadi. Maaf atas semua yang telah saya ucapkan.” Raihan menarik Romlah dalam pelukannya. Menyerah bukan kata yang pantas untuk membalas semua pengorbanan mereka selama ini.

“Aku bahagia bersama kamu. Itu sudah lebih dari cukup untuk menebus semua yang telah terjadi. Kebersamaan kita dan anak-anak takkan mampu digantikan oleh apapun.” Romlah mempererat pelukannya pada Raihan.

***

“Ren, udah dong. Jangan nangis lagi ya. Perkataan Om Oji gak usah lo masukin dalam hati deh. Dia lagi stress kali.” ZeeZee mencoba menenangkan Irene. Diusapnya punggung Irene yang kini sedang tertungkup menutup mukanya dengan guling.

            Irene menangis sejadinya. Dia tidak menyangka masa lalunya akan diungkapkan sedemikian pahit oleh Oji. Masa lalu yang tak pernah dia biarkan orang lain tahu. Masa lalu yang dia kubur dalam-dalam bersama dengan rindu pada papa kandungnya. Masa lalu yang tak pernah mau dia ungkit.

“Kak, salah aku apa? Aku gak pernah minta dilahirin sebagai anak yang gak punya papa. Aku gak pernah mau dilahirin sama mama yang belum pernah menikah. Aku gak pernah memohon untuk dilahirkan sebagai anak yang gak jelas asal usulnya. Aku gak pernah minta semua terjadi sama aku, kak.” Irene menangis dalam pelukan ZeeZee.

“Ren, setiap anak yang lahir ke dunia itu suci. Klo sampai ada anak dengan sebutan anak haram, itu kesalahan kedua orang tuanya. Gak ada satu orangpun yang berhak menjatuhkan kesalahan kepada sang anak. Lo gak salah apa-apa kok. Jadi lo gak usah mikir macem-macem ya. Udah lupain semua yang diomongin Om Oji.” ZeeZee mengusap air mata Irene, mencoba menenangkannya.

***

“Nafisa bener-bener kecewa sama abang. Gak seharusnya abang bilang gitu sama Irene. Dia gak salah apa-apa, bang” Nafisa menahan tangisnya. Dia tak menyangka suami yang dicintainya tega berbuat demikian.

“Bang, abang pernah banyangin gak klo itu terjadi pada diri abang? Klo abang diperlakukan seperti Bang Raihan sama keluarga Nafisa. Gimana perasaan abang? Apa abang akan pertahanin Nafisa seperti Bang Raihan mempertahakan Mpok Romlah? Apa abang tetap mencintai Nafisa sebesar Bang Raihan mencintai Mpok Romlah?”

“Naf, udah ya. Abang lagi gak mau berdebat. Kepala abang pusing.” Oji menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

“Bang, klo abang mengalami hal yang sama dengan Bang Raihan, mungkin abang akan menceraikan Nafisa. Tapi gak dengan bang Raihan.”

            Malam ini mereka tutup dengan air mata dan kekecewaan. Apakah semua akan berakhir baik-baik saja? Atau justru perpisahan jalan terbaik? Stay tune.. *kecupbasah


KISAH ROMLAH RAIHAN (Tukang Bubur Naik Haji) part 8

“Sayang, saya bahagia sekali. Saya bahagia bisa menikah sama kamu. Ini impian saya dari dulu.” Raihan mengusap rambut Romlah yang kini sedang berbaring di dadanya.
“Aku juga bahagia. Aku gak nyangka perjuangan kita berakhir manis. Aku sayang banget sama kamu, Raihan.”
“Saya juga sayang sama kamu. Kita akan memulai semua berdua. Saya harap kamu mau membantu saya untuk mengarungi bahtera rumah tangga ini berdua bersama anak-anak kita.” Raihan mengecup rambut Romlah.
            Raihan dan Romlah melewatkan malam dengan penuh kebahagiaan dan cinta. Mereka mengharapkan ridho Allah dan para malaikatnya dalam mengarungi kehidupan mereka bersama. Malam ini mereka tutup dengan shalat malam sambil berdoa semoga mereka berjodoh sampai maut memisahkan.
***
            Seminggu sudah Romlah dan Raihan berstatus suami istri. Hari-hari mereka lalui dengan kebahagiaan dan canda tawa. Keberadaan ZeeZee, Irene dan Romi memberikan warna tersendiri. Romlah bahagia Irene dapat dengan cepat akrab dengan Romi. Romlah tahu bahwa Irene sangat menyayangi Romi.
“Pagi, pa. Pagi, mi.” Irene mencium pipi Raihan dan Romlah yang sudah terlebih dahulu di meja makan.
“Pagi, om. Pagi, tan.” Disusul oleh ZeeZee yang ternyata bangun paling terlambat. Irene dan ZeeZee duduk di bangku tepat berhadapan dengan Romlah.
“Zee, Om mau ngomong sama kamu.” Raihan berbicara dibarengi dengan Romlah yang mempersiapkan makanan ke piringnya.
“Ya, om.” ZeeZee seketika menoleh. Irene dan Romlah yang juga penasaran memperhatikan keduannya.
“Zee, Om gak suka dengan panggilan kamu Om Raihan dan Tante Romlah.” Raihan terlihat serius dengan pembicaraannya. ZeeZee bingung dengan apa yang dilakukan Raihan. Sedangkan Irene menatap Romlah seolah meminta kepastian tentang apa yang terjadi. Romlah hanya bisa menaikkan bahu tanda tidak tahu apa-apa.
“Klo kamu mengijinkan, om mau kamu panggil dengan sebutan papa dan mimi sama seperti Irene dan Romi.” Wajah tegang ZeeZee mengendur seketika. Dia tersenyum sambil mengangguk senang.
“Papa, Irene pikir ada apa.” Irene kembali ke posisi santainya. Karena tegang dia sampai memajukan badan agar dapat focus pada ZeeZee dan Raihan.
            Romlah dan Raihan hanya tersenyum Romlah bahagia Raihan dapat menerima semua yang terjadi dalam dirinya. Raihan tak pernah mengeluh sedikitpun. Dia tak pernah pilih kasih pada semua anak-anak mereka termasuk ZeeZee. Dan Romlah sangat setuju dengan keputusan Raihan menyamakan panggilan dari Irene, ZeeZee dan Romi walau dia sedikit risih dengan panggilan mimi karena itu mengingatkannya pada Kardun.
            Raihan sendiri tidak setuju dengan perubahan panggilan pada Romlah ataupun adanya perbedaan panggilan. Hal ini dapat menyebabkan Romi bingung karena dia masih kecil. Biar semua mengalir apa adanya dan bagaimana seharusnya.
“Pagi semuanya.” Oji dan Nafisah yang baru keluar kamar tampak rapi.
“Rapi banget, Ji. Kalian berdua mau kemana?”
“Mau pergi bentar, mpok. Mau nyari rumah kontrakan.”
“Kenapa kalian mencari rumah kontarakan? Kenapa tidak disini saja?” Raihan mencoba mencari tahu.
“Gak deh. Oji gak mau tinggal sama orang yang Oji gak suka.” Oji menjawab sinis pertanyaan Raihan. Raihan hanya tertunduk mendengar perkataan Oji.
“Ji, lo apa-apaan sih?” Romlah mencoba menjadi penengah.
            Sejak pernikahan Raihan dan Romlah, Oji selalu sinis bila berbicara dengan Raihan. Ternyata Oji belum sepenuhnya memaafkan Raihan. Tak jarang hal ini membuat Romlah dan Oji bertengkar. Romlah yang membela suaminya dianggap Oji sudah tak lagi sayang padanya. Hal ini menyebabkan terjadi perang dingin antara Raihan, Romlah dan Oji.
“Zee, Om Oji mau ngomong nih ama ZeeZee. Nanti klo ZeeZee udah besar, ZeeZee jangan cinta sama orang sampe kelewatan ya. Jangan mau dibego-begoin ama cinta. Klo tu laki-laki udah nyakitin, udah ninggalin, gak usah lagi dikasih kesempatan. Mending cari yang baru.” Oji menatap Raihan seklias. Yang ditatap tampak menundung. Wajah raihan berubah merah.
            Seminggu menikah dengan Romlah membuat Raihan harus belajar menahan malu dan amarah atas sikap Oji. Oji yang bersikap dingin hanya ditanggapi dengan senyuman. Raihan harus bersikap dewasa jika tak ingin pernikahannya kacau karena semua ini.
            Di sisi lain, Irene tampak mengepalkan tangannya. Jelas dia marah Oji selalu memperlakukan Raihan dengan cara tidak hormat. Tapi nasihat Raihan selalu dipegang Irene. Irene tidak ingin mengecewakan Raihan dan Romlah.
“Maksud Om Oji kayak Papa?”
“Bukan. Papa kamu kan laki-laki baik.”
“Maksud aku, Papa Raihan. Oh iya, om belum tau ya. Mulai hari ini aku manggil Om Raihan sama Tante Romlah itu papa dan mimi.” ZeeZee tersenyum sedangkan Oji memasang waajah cemberut.
“Klo aku jadi mimi, aku bakal ngelakuin hal yang sama. Ketika aku yakin orang itu punya cinta yang besar kenapa enggak aku memberikannya kesempatan lagi. Kan aku yakin aku bakal bahagia sama dia. Lagian klo orang yang cinta banget sama kita ninggalin kita, pasti ada factor luar yang menyebabkan dia ngelakuin itu. Misalnya seperti ancaman.” Kali ini ZeeZee menatap tajam pada Oji. Oji merasa tersindir dengan perkataan ZeeZee.
            Suasana dingin seketika berubah panas. Perkataan ZeeZee seperti membuka luka lama Raihan sekaligus membongkar rahasia Oji yang selama ini dia tutup rapat-rapat. ZeeZee tersenyum penuh kemenangan menatap Oji yang hanya tertunduk.
“Pap, papa sama mimi besok udah mulai kerja ya?” Irene membuka suara ditengah hening yang tercipta.
“Iya sayang. Klo kelamaan kan kasian perusahaannya.”
“Mimi juga gak suka lama-lama diem di rumah. Bosen.”
“Klo mimi sih emang wanita karier abis. Aku inget banget mama pernah bilang klo mimi ini pekerja keras. Jadi gak heran deh klo gak betah dirumah.”
“Tapi klo mimi dan papa udah kerja, jangan sibuk-sibuk ya.” Irene memeluk manja Raihan.
“Sayang, walau mimi kerja, mimi gak akan ngelupain tanggung jawab mimi buat negrawat kalian kok.” Romlah mengelus wajah kedua putrinya.
“Klo Cuma buat jaga anak sih mending bayar baby sister gak usah kawin.” Lagi-lagi Oji menyeletuk sinis. Raihan dan Romlah hanya bisa menarik nafas panjang melihat sikap Oji. Lain halnya dengan ZeeZee dan Irene yang mulai gerah dengan sikap Oji.
***
“Assalamualaikum, sayang. Kamu pulang jam berapa hari ini?” Raihan menghubungi Romlah yang tengah berada dikantor. Hari ini adalah hari pertama mereka beraktivitas kembali setelah cuti pernikahan.
“Wa’alaikumsalam. Aku pulang telat hari ini, bang. Kerjaan lagi numpuk banget karena ditinggal kemaren.” Romlah yang tengah didepan laptop menjawab sekenanya. Sebenarnya dia tidak ingin diganggu karena pekerjaan yang banyak.
“Kamu sudah makan siang?” Raihan tahu betul kebiasaan Romlah yang suka lupa makan bila sedang serius bekerja.
“Udah kok. Ini baru selesai. Sekarang aku lagi jalan ke ruangan buat nyelesain pekerjaan aku. Abang udah makan?” Romlah mencoba berbohong karena dia lupa kalau ini sudah masuk jam makan siang.
“Abang lagi on the way mau ketemu klien buat bicarain pekerjaan sekalian makan siang. Bener nih kamu udah makan?”
“Udah kok, bang. Ini aku baru sampe ruangan. Bang, maaf nih aku mau mulai kerja lagi, nelponnya ntar lagi ya?” Romlah mencoba mengakhiri telpon dari Raihan.
“Klo kamu dari kantin. Kenapa saya gak liat kamu dari tadi ya?” Raihan mengeluarkan kepalanya di pintu ruangan Romlah. Romlah terkejut dan malu karena ketahuan berbohong.
“Kok abang disini. Abang ngerjain aku nih. Udah ketularan ZeeZee sama Irene jailnya.” Romlah menghampiri Raihan sambil memeluk manja.
“Saya kenal sekali kamu seperti apa. Klo sudah berhadapan dengan pekerjaan pasti lupa dengan semuanya termasuk makan. Makanya saya kesini untuk memastikan bahwa istri saya tercinta makan sesuai waktunya. Saya gak mau kamu sakit, Romlah.”
“Ihh, kamu gitu deh. Maaf ya aku gak bermaksud boong. Cuma emang kerjaan lagi banyak banget. Kamu kesini bukan Cuma mau ngecek aku udah makan atau belum kan?” Romlah tersenyum manja saat melihat Raihan membawa sebungkus makanan.
“Ini untuk kita makan siang. Saya mau makan siang sama kamu, sayang.”
“Aku siapin bentar ya. Kamu duduk aja.” Romlah berjalan ke sebelah ruangannya.
Ketika sedang asik menyiapkan makanan, Romlah terkejut karena ada yang memeluknya dari belakang.
“Sayang, ini kantor loh. Klo ada yang liat kan malu.” Romlah menghadapkan tubuhnya dengan tubuh Raihan.
“Tapi ini kan ruangan pribadi kamu. Klo pun ada yang masuk pasti ketuk pintu dulu dong.” Ucap Raihan manja mempererat pelukannya pada Romlah.
“Yaudah. Ini udah siap. Kita makan yuk!” Romlah membawa semua makanan ke ruang kerja.
            Setelah semua tersaji dimeja, Romlah dan Raihan makan bersama sambil sesekali tertawa kecil. Tak sungkan bagi Romlah untuk menyuapi Raihan begitu juga sebaliknya. Mereka merasa dunia ini milik berdua. Kebahagiaan yang selama ini mereka impikan telah menjadi kenyataan.
            Lalu bagaimanakah dengan Oji? Akankah masalah ini membawa pernikahan Romlah dan Raihan berantakan? Stay tune.. *kecupbasah